SELAMAT DATANG DI BLOG KELOMPOK KERJA PENYULUH PROVINSI JAWA TIMUR
  • Kunjungan ke Pure Terbesar di Asia Tenggara


    11 Januari 2017
  • Kunjungan ke Pure Terbesar di Asia Tenggara


    11 Januari 2017
  • Berkunjung di Masjid yang Berada di Dataran Tertinggi di Asia Tenggara (B-29)


    10 Januari 2017
  • Bimtek e-Kinerja


    10 Januari 2017
  • Masjid B-29 yang Direncanakan jadi Posko Jambore Penyuluh


    10 Januari 2017
  • Berada di Puncak B-29 Lumajang Jawa Timur


    10 Januari 2017

HASIL KARYA

Rabu, 06 Desember 2017

AKU SABAR, AKU PAHLAWAN !

Apakah pahlawan itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, atau pejuang yang gagah berani. Kata pahlawan berasal dari bahasa Sansekerta phala-wan. Arti dari istilah Sansekerta tersebut adalah orang yang dirinya menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama. Islam sebagai sebuah agama yang menghargai prestasi, pengorbanan dan pengabdian memandang, bahwa siapapun yang bermanfaat dan berkontribusi kepada sesamanya, maka pribadi tersebut pantas disebut sebagai pahlawan atau sebaik-baiknya manusia, Nabi Muhammad bersabda, “Sebaik-baiknya manusia di antara kalian adalah yang bermanfaat bagi manusia” (HR. Bukhori dan Muslim) Seorang pahlawan ialah mereka yang mampu menempatkan diri pada tempatnya, tidak menzalimi orang lain, bersikap adil dalam segala tindakannya, dan mampu untuk objektif melihat sesuatu, serta bisa menahan gejolak emosi, karena orang kuat adalah pribadi yang kuat membendung kemarahanya ketika ia marah. Nabi bersabda, “orang yang kuat bukanlah seorang yang menang dalam pergulatan, tetapi manusia yang kuat adalah siapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika dia marah.” (HR. Bukhari) Jika berkaca kepada sejarah kepahlawanan dalam Islam, kita akan menemukan figur-figur luar biasa yang memang pantas disebut sebagai pahlawan sejati. Nabi Muhammad adalah sosok utama yang layak menyandang predikat tersebut, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 21) Untuk menjadi pahlawan sejati sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, kita membutuhkan apa yang dinamakan dengan kesabaran, sebab tanpanya mustahil manusia mampu meraih hakekat kepahlawanan. Berkenaan dengan hal ini Allah berfirman “Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”.(Q.S. Al-Anfal: 65) Sabar adalah penentu kemenangan bagi seorang pahlawan, ia bagaikan segelas jamu yang terasa pahit, tetapi justru dengan kepahitan itu akan menghasilkan kesembuhan yang rasanya lebih manis daripada madu. Dari kesabaranlah lahir sifat santun. Dari kesabaran pula lahir kelembutan. Bukan hanya itu, kemampuan menjaga rahasia juga lahir dari kesabaran. Demikianlah pula berturut-turut lahir kesungguhan, kesinambungan dalam bekerja, dan yang mungkin sangat penting adalah ketenangan. Mereka yang memiliki naluri kepahlawanan dan keberanian harus mengambil saham terbesar dari kesabaran. Mereka harus sabar dalam segala hal; sabar dalam menuntut ilmu, sabar dalam ketaatan, sabar dalam meninggalkan maksiat, atau menghadapi cobaan. Maka, ketika aku sabar, aku mampu menjadi pahlawan. Karena aku bersungguh-sungguh berbuat dan bertindak demi kemaslahatan manusia, agama dan negara. Aku mampu melakukan sesuatu yang sederhana dikerjakan tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak.

Selasa, 11 Juli 2017

EKSPOSE DAN PRESENTASI PEMILIHAN PENYULUH AGAMA ISLAM FUNGSIONAL TELADAN TINGKAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2017 (RABU, 11 JULI 2017)


Senin, 03 April 2017

Disela-sela Giat Isro' Mi'roj dan Harlah NU ke 94, Anggota DPR-RI Komisi VIII Serahkan Penghargaan Pemenang Juara 2 Kaligrafi Kontemporer Aksioma Tingkat Provinsi Jatim

Kab. Probolinggo (Inmas) Acara diawali dengan gema lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan gebyar Sholawat Nabi Simtudduror oleh PAC MDS Rijalul Ansor Wonomerto. Dalam sambutannya Ketua MWCNU Wonomerto, H. Moh. Hasan Siddiq menyampaikan terima kasih kepada semua undangan baik dari jajaran Forkopincam-KUA, Cabdin, para akademisi pendidikan, Pengurus NU dari semua unsur serta para undangan yang lain yang semuanya tidak kurang dari 1500 orang.

“Alhamdulillah dalam Harlah Nahdlatul Ulama ke 94 yang sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw kita ditaqdir oleh Allah Swt menghadiri acara ini semoga akan memberikan dampak positif bagi perkembangan NU kedepan”.

Harapan demi harapan kehadiran Bapak Hasan Aminuddin di tengah-tengah kita semoga menjadi penyejuk dan angin segar bagi warga NU untuk lebih mempererat dan mengukuhkan ke Aswaja-an kita, untuk meng Charge ulang kesungguhan dakwah kita dalam mengawal keutuhan NKRI sebagai tonggak sejarah perjuangan para Pahlawan dan Ulama Nahdlatul Ulama.

Sementara Ketua PCNU, H. Abdul Hadi Saifullah mengungapkan bahwa “Tanda-tanda orang NU, kalau mendengar nama Rasulullah SAW disebut pasti langsung jawab”.

Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW. merupakan Ulang Tahun Sholat, yang berhak mengadakan Isro’ Mi’roj adalah mereka yang menjaga dan melakukan sholat, bukan yang tidak sholat. PCNU menyampaikan bahwa orang yang tidak sholat lebih jelek dari pada syaitan, dan orang itu tergantung temannya, siapa yang menjadi teman baginya, maka kelakuannya tidak jauh darinya.

Warga NU jadi apapun harus tetap menjaga NU dan keutuhan NKRI. Saya patut berbangga karena ditempat ini semua kompak dan bersinergi antara pengurus NU dan Pemerintah duduk bareng, kumpul bersama dalam wadah yang sama sesuai dengan tema : “Solidkan Organisasi Untuk Membangun NKRI”.

Diakhir ceramahnya H. Abdul Hadi mengajak Jama’ah NU dan undangan untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah. Karena dengan memperkuat silaturrahim inilah akan mampu membangun kebersamaan kita kedepan.

Sebelum memberikan pengarahan, Mustasyar PCNU Probolinggo menyampaikan permohonan maaf kepada panitia dan semua undangan yang telah menunggu. Seharusnya saya bersama Ibu Bupati sampai di sini jam 09.30 namun karena harus mengantarkan jenazah Bapak H. Moh. Nawi yang selama hidupnya tidak pernah kufur nikmat, mulai dari ekselon IV kita antarkan ke ekselon II.

NU bertugas mengemban amanah keagamaan, sosial dan kemasyarakatan. Kalau di sini masih banyak yang belum sholat yang pertama kali dihisab adalah pengurus NU. Jadilah manusia yang waratsatul anbiya’. Urusan dunia jangan sampai mengalahkan urusan akhirat, karena pergeseran zaman hari ini banyak orang yang hubbud dunya. Al-Qur’an dijadikan pembenar untuk urusan dunianya, yang seharusnya Al-Qur’an dijadikan sebagai pola berdzikir, berfikir dan amaliyahnya.  

Banyak orang berlomba-lomba membangun Musholla dan Masjid, namun kurang cerdas dalam memakmurkannya. Ketika terjadi permasalahan hidup, adukanlah hanya kepada Allah. Kalau kita memiliki kelebihan rizqi sisihkan sebagian untuk amal sholih yang bisa bermanfaat kepada orang lain. Selain itu segeralah daftar haji sekalipun harus menunggu lama karena sekalipun bolak balik umrah tidak akan menggugurkan kewajiban haji, ulasnya.

Beliau juga menghimbau agar Kepala desa, camat dan pengurus NU memberikan penjelasan yang menyeluruh agar warga kita tidak tersesat. Kitaharus mampu berinteraksi dengan sesama dengan kerendahan hati, penerapan “hablum minallah wa hablum minannas” terus kita jaga dengan baik. Kalau istilahnya kemenag “Amar ma’ruf wan nahyu anil munkar”, (seraya beliau melirik H. Wawan AS Kepala KUA Wonomerto.red).

Selain menjaga keimanan, mulyakan anak-anak kita dengan memberikan pendidikan yang cukup kepada mereka, baik di sekolahkan di lembaga yang berada dibawah Kementerian Agama (RA, MI, MTs dan MA) ataupun di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PAUD, TK, SD, SMP dan SMA/SMK). Karena sesuai dengan janji Allah Swt yang akan diangkat derajatnya  adalah mereka yang beriman dan berilmu. Di akhir ceramahnya ia juga mengatakan bahwa tidak ada nasab menjamin nasib, namun nasib yang baik akan mampu membuat nasab baru.


Pada saat yang sama Mantan Bupati dua periode ini, yang saat ini sebagai anggota Komisi VIII DPR-RI menerima pemberian cindera mata oleh salah seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Wonomerto Pemenang Juara II Kaligrafi Kontemporer Aksioma Tingkat Provinsi Jatim pada 21-25 Februari lalu di Kota Kediri. Dan atas nama Pemerintah beliau juga memberikan cinderamata dan penghargaan kepada yang bersangkutan. (Ansori).

Rabu, 29 Maret 2017

Persiapan Pemilihan Penyuluh Teladan Tingkat Kab. Sidoarjo Tahun 2017

Minggu, 26 Maret 2017

Rahmat Alloh

Jumat, 24 Maret 2017

DUA PILIHAN MANUSIA

JANGAN WARISKAN 4 HAL KEPADA ANAK

Rabu, 22 Maret 2017

Kisah Amal Sholih Abu Hurairah

Kamis, 16 Maret 2017

EDISI BELAJAR...DUA PILIHAN MANUSIA

Selasa, 14 Maret 2017

Senin, 13 Maret 2017

LATIHAN DAKWAH

Kamis, 09 Maret 2017

Jadikan Medsos Salah Satu Media Dakwah Kita


TADARUS CINTA

Rabu, 08 Maret 2017

workshop pokjaluh 2017

WORKSHOP POKJALUH JATIM

WORKSHOP POKJALUH JATIM